Minggu, 25 Agustus 2019

CERPEN ( 10 Tahun Sudah )

Langit senja sudah mulai gelap pertanda malam telah mengusir siang, adzan magrib baru saja berlalu dan aku baru saja menyelesaikan sholat magrib berjamaah di rumah sempit milik pamanku. Aku baru saja tiba sore ini ditanah kelahiranku, sejak peristiwa yang meregut keluargaku ditahun 1998 aku putuskan untuk pergi merantau kekota dengan menjual semua warisan ayah. Tak banyak memang, hanya beberapa petak sawah dan rumah yang menjadi kenangan manis masa kanak-kanakku.

Kampung ini tak banyak berubah, masih seperti dulu. Jalan yang  sering aku lalui dengan Hasnah sahabat masa kecilku dulu masih sama, tanah dengan lumpur hitam apabila musim penghujan. Cuti kerja tahun ini aku ingin
berziarah kemakam ayah dan ibu yang sudah tak aku sambangi sepuluh tahun lamanya. Semenjak meninggalnya mereka pada sebuah tragedi tenggelamnya kapal yang akan membawa mereka kepulau terdekat dikampungku.

Aku tak ingin menggantungkan hidup pada pamanku yang miskin, bagiku cukuplah sudah bebannya dengan sembilan anak yang ia tanggung, dan tak akan mungkin aku menggenapkannya menjadi sepuluh anak dalam asuhannya. Waktu itu paman tidak mengizinkan aku untuk pergi merantau kekota mengingat usiaku yang masih belia, apalagi aku adalah anak perempuan satu-satunya di garis keturunan pamanku.

Tapi, aku tetap bersikeras dan meyakinkan paman kalau aku tidak apa-apa, lagi pula dikota aku akan tinggal dengan bibi adik dari ibuku yang sudah tinggal disana selama delapan tahun, dan aku akan melanjutkan sekolah disana. Paman hanya bisa mendukung keputusanku, sejak hari itu setelah sepuluh tahun lamanya kini baru aku kembali. Dan aku tidak lagi gadis kecil paman yang manja, tidak lagi gadis bodoh yang setiap harinya dulu dihabiskan menangkap berudu di tengah sawah dengan Hasnah. Kami akan sangat gembira dengan anak-anak berudu malang itu, kami tangkap menggunakan saringan penyeduh teh milik ibuku, lalu kami masukkan anak-anak berudu itu kedalam botol. Dan sudah pasti berudu malang itu berenang meronta-ronta mencari tempat keluar, aku dengan Hasnah hanya tertawa bahagia membawa mereka pulang kerumah.

Kenangan masa kecil yang indah, waktu sepuluh tahun itu telah merubah diriku, merubah semua kebodohanku dulu. Kini aku telah sukses dikota, kalau dulu saat aku pergi dengan sebuah nama dan kini saat aku kembali dengan dua gelar dibelakang namaku, Sarjana dan Magister.

Lamunanku buyar, seseorang menyapaku yang sedang duduk dipelataran rumah paman.
"Ziya...!" sapanya dalam keremangan malam.
 Aku tak mengenali wajah itu, penerangan yang kurang membuat aku berpikir siapakah perempuan kurus yang berdiri didepanku ini.
"Iya,,maaf siapa ya?" tanyaku pada sosok yang berdiri didepanku ini
"MasyaAllah...apa kabarmu Ziya?". Sosok itu langsung memelukku.
"Maaf ya, anda siapa?" Tanyaku masih kebingungan.
"Apa kau lupa aku? aku Hasnah"

Sontak saja aku kaget dan refleks memeluk Hasnah yang sepuluh tahun ini aku rindukan. Setelah berpelukan dan bertangisan dalam kerinduan, akupun bertanya padanya mengapa ia berubah seperti ini. Hasnah yang aku kenal dulu adalah seorang gadis yang cantik, tubuhnya berisi, rambutnya saban hari selalu wangi, dan aku dulu selalu cemburu dengannya karena disekolah ia memiliki banyak fans-fans gila yang menyanjung kecantikannya saban hari.

Lantas kenapa Hasnah yang berdiri didepanku sekarang sangat tidak mirip dengan Hasnahku yang dulu, kurus, dekil, rambutnya awut-awutan bahkan aku lihat matanya sembab seperti habis menangis.
Lalu ia pun bercerita, setahun setelah kepergianku ia dipaksa menikah oleh ayahnya. Waktu itu ia ingin melanjutkan sekolahnya, tapi ayahnya melarang. Padahal keluarga Hasnah termasuk keluarga yang kaya dan terpandang dikampungku, ayahnya berkata bahwa tak ada gunanya menyekolahkan anak perempuan tinggi-tinggi karena pada akhirnya mereka akan kembali ke dapur. Sebuah pikiran kuno di tengah kehidupan yang sudah serba modern ini, Hasnah tak mampu untuk menolak permintaan ayahnya. 

Ia menikah, dan inilah awal mula neraka Hasnah, suami yang dipilih ayahnya dulu adalah seorang pecandu minuman alkohol, juga seorang penjudi. Kalau suaminya sedang mabuk berat ditambah kalah judi maka sudah dapat dipastikan Hasnah lah tempat luapan kemarahannya, ia akan memukul, menampar dan menendang istrinya tampa belas kasih. Melawan Hasnah tak kuasa, berulang kali ia ingin cerai dan berulang kali pula suaminya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi pada kenyataanya lelaki tersebut tidak pernah beruabah.

Di tahun kelima pernikahan mereka, Hasnah sudah merasa tak tahan dan ingin mengakhiri semuanya, ia menuntut cerai tapi lagi-lagi Tuhan belum memberinya restu untuk berpisah dengan lelaki tak bermoral tersebut. Hasnah mengandung anak pertama mereka, dan ini kemudian merubah niat dan sikap suaminya. Selama Hasnah mengandung, suaminya berubah sangat baik, tidak lagi berjudi dan minum-minum, Hasnah sedikit lega.

Tapi, setelah kelahiran putri kembar mereka, sikap sang suami kembali seperti semula dan bahkan lebih parah, kalau dulu ia berjudi dan mabuk, sekarang suka main perempuan. Bertambah sakitlah perasaan Hasnah. 
Mendengar  nasib Hasnah yang malang itu aku menangis, kami berpelukan cukup lama, lalu aku seka air matanya. Garis kecantikan sahabatku ini belum hilang, ia masih cantik seperti yang dulu, hanya saja kecantikan itu tertutup dengan penderitaan yang berkepanjangan yang juga telah merubah sorot matanya.

"Waktu kamu mau pergi kekota dulu, aku ingin menyusulmu". Hasnah bercerita lagi
"Lalu kenapa tak memberi tahuku?" 
"Bahkan kau tak pernah memberiku kabar?". Aku bertanya dengan air mata
Hasnah hanya diam terpaku
"Sudah malam, aku harus pulang anakku pasti sudah bangun dari tidurnya".
Lalu tampa berkata lagi ia meninggalkan aku yang masih memiliki pertanyaan yang belum ia jawab.

Malam itu mataku tak hendak terpejam, rasa capek dari perjalanan jauh tak hendak membuatnya mengantuk. Pikiranku masih kepada Hasnah sahabatku yang malang, lalu kemudian aku terbayang kembali dengan masa kanak-kanak kami yang indah, serta sempat merasakan masa remaja beberapa tahun dengannya. Hasnahku dulu gadis yang periang, pintar dan yang paling cantik dikampung kami. Memang aku selalu iri dengan semua yang dimilikinya, tapi dia juga yang paling aku sayang. Aku akan menangis ke ibuku kalau aku tidak di bolehkan pergi bertandang dan main kerumah Hasnah. Pernah suatu malam aku terbangun dan minta dibawakan kerumah Hasnah, waktu itu aku demam dan tiga hari tak bertemu dengan Hasnah, hal ini mungkin dikarenakan aku anak tunggal dan Hasnah sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.

Keesokan harinya, sepulang dari ziarah kemakam ayah dan ibu, aku berencana mampir kerumah Hasnah. Sebelum aku kerumah Hasnah terlebih dahulu aku pulang, akan kubawakan buah tangan untuk dia, karena tadi malam tak sempat memberinya. 
"Mau kemana Zi?". tanya pamanku
"Mau kerumah Hasnah". Jawabku singkat
"Mau ngapain kerumah Hasnah?" Tanya pamanku lagi
"Aku mau menjenguk dia dan anaknya, dia bilang tadi malam kalau dia sudah punya anak kembar".
"Ahh...jangan ngaco kamu Zi!!!". Balas pamanku
"Siapa yang ngaco paman, Hasnah sendiri yang bilang tadi malam". jawabku
"Ketemu Hasnah dimana kamu Zi?".
"Didepan rumah, waktu aku lagi duduk-duduk tadi malam".

"Hasnah sudah meninggal dua minggu yang lalu Zi". jawab pamanku pendek.
"Ahh paman jangan bercanda". aku menimpali sambil tersenyum.
Karena tidak percaya, paman mengajakku kepemakaman, lalu ia menunjukkan sebuah batu nisan dengan kubur yang masih merah dengan bunga melati yang sudah layu.
Kontan saja aku kaget bak disambar petir disiang hari, tak mungkin. Tadi malam kami bertemu, bercerita dan berpelukan. Bahkan setelah pertemuan itu dalam hati aku berjanji akan membantunya lepas dari suaminya yang durjana itu.

Akan kubawa Hasnah kekota, dan akan kuberikan ia pekerjaan yang baik. Lalu mimpiku buyar seketika. Paman bercerita, bahwa Hasnah meninggal akibat disiksa suaminya. Pada malam naas itu setelah suaminya kalah judi dan dalam keadaan mabuk berat, ia menyiksa Hasnah seperti biasanya. Tapi malam itu, Hasnah melawan, entah setan apa yang merasuki lelaki itu hingga ia mengambil pisau di dapur dan menusuk istrinya hingga tewas. Kini suaminya sudah dipenjara, anak-anaknya yang masih berumur lima tahun itu diasuh oleh orang tua Hasnah.

Tapi, orang tua itu tak lagi sekaya dulu, bahkan sekarang untuk sesuap nasi saja mereka berat, ditambah lagi dengan beban dua cucu yang harus mereka asuh. Dengan hati dan keputusan yang mantap dua anak Hasnah itu diadopsi oleh Ziya, puti kembar Hasnah itu diasuh dan dibesarkan oleh Ziya dengan baik. Baginya jangan lagi nasib buruk yang menimpa sahabatnya terjadi pada anaknya.

Hingga hari ini Ziya tidak bisa melupakan pertemuan malam itu dengan Hasnah, air matanya, tubuh kurusnya, wajah yang dibalut kelaraan itu. Andai saja orang tua Hasnah dulu mengizinkan Hasnah menyusulnya kekota, pastilah ia jadi gadis yang sukses seperti Ziya, atau setidaknya ayahnya tidak menikahkan ia dengan lelaki durjana itu, tentulah hari ini ia bersama Hasnah menyaksikan pernikahan putrinya.

Pekanbaru, 26 Agustus 2019.
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga




Sabtu, 24 Agustus 2019

KISAH ISLAMI ( Nabi Muhammad SAW dan Wanita Tua)

Suatu hari datang seorang wanita tua menghadap Rasulullah SAW. Wanita tua itu dikenal sangat rajin beribadah. Kedatangan wanita tua itu disambut dengan ramah oleh Rasulullah SAW. Setelah berbicara panjang lebar tentang amal perbuatan yang dapat membawa seseorang masuk ke dalam surga Allah SWT, wanita tua itu dengan antusias bertanya tentang gambaran surga.

Surga adalah tempat yang sangat unik dan misterius. Bahwa gambaran surga seperti yang ada di Al-Qur'an dengan taman-tamannya, gedung-gedung mewahnya, sofa-sofanya, dan juga para pelayannya itu masih jauh dari kesempurnaan.

Dikatakannya bahwa surga itu wilayah yang segala sesuatu yang ada di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan juga tidak pernah terbetik dalam khayal imajinasi manusia.

Tapi entah karena apa tiba-tiba Rasulullah SAW berkata kalau di surga nanti tidak akan ada wanita seperti wanita tua tadi.

Karena pernyataan Rasulullah SAW itu, wanita tua yang tadinya berkaca-kaca kegirangan tiba-tiba mendadak bersedih dan menangis. Dia sepertinya kecewa, karena dia berpikir tidak akan bisa masuk surga.

Anehnya, Rasulullah SAW malah tersenyum melihat wanita tua itu menangis. Tidak lama kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat yang artinya: "Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya." (Al-Qur'an, al-Waqiah: 36-37)

Mendengar Rasulullah SAW membaca ayat tadi, wanita tua itu kembali tertawa dan memukuli Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun hanya tersenyum.

Dikutip dari: Seri tauladan humor sufistik karya Tasirun Sulaiman

Senin, 23 Oktober 2017

Meski gedung sekolah ala kadarnya siswa/i ini tetap semangat menuntut ilmu

Kondisi gedung Sekolah Dasar Negeri 13 kecamatan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rokan Hilir ini sangat memprihatinkan, para siswa belajar dengan kondisi gedung yg lebih menyerupai sebuah warung, dengan berlantaikan tanah mereka tetap semangat menuntut ilmu dibawah terpaan sinar matahari pagi.
Sebenarnya kelas yg menyerupai warung itu merupakan kelas tambahan kepada kelas disebelahnya yang telah memiliki gedung permanen, dikarenakan siswa/i yg semakin bertambah menjadikan pihak sekolah mengambil langkah lain dengan membuat kelas tambahan dengan bahan ala kadarnya.
Tentunya ini perlu perhatian dari dinas pendidikan kabupaten mengenai kondisi sekolah ini.

Jumat, 14 April 2017

Fakta Pramuka

Siapa sih yang gak kenal pramuka...
    Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler yang kegiatannya berhubungan dengan alam dan sosial. Bagi kamu yang hobi dalam kegiatan ini pasti sudah banyak makan asam garamnya kegiatan ini, mulai dari kisah sedihnya sampai kisah serunya. Nahhh dari artikel kali ini saya mencoba membuat fakta Pramuka selamat membaca.

1. Paling males latihan tapi paling semangat kalo ikut camping.
     
        Hayoooo siapa yang suka begini,,hahaha kalau pas latihan pada ngilang raib bak ditelan bumi, tapi pas mau camping waaa pada hadir semua wkwkwk

2. Camping kayak mau pergi liburan

       Kalau yang ini sihh terkadang ada teman kayak gitu, camping bawa-bawa boneka katanya Gak bisa tidur tanpa tu boneka, bantal alat make up, seransel makanan ringan Wahhhhh ini mau kemah atau mau toor ya....

3. Makan seadanya

         Bagi kamu yang hobi makan banyak mending gak usah ikut pramuka dehhhh heheheh canda gan  uda pasti ya kan kalau ikut kemah makan seadanya dan harus bagi-bagi keteman yang lain.  Kan kasian kalau kamu makan sendiri itu namanya gak anak PRAMUKA banget.

4. Tidur berdesakan
    
        Sudah tak terelakkan lagi bagi yang punya regu berjumlah delapan pertenda pasti bakalan rusuh dehhh soal tempat tidur, trus ada yang ngalah tu buat tidur dibawah kaki teman-temannya.

5. Jarang mandi

       Yang satu ini kayaknya sudah jadi kebiasaan ya selama mengikuti perkemahan, kalau sudah begini kamu perlu bekal parfum dari rumah biar wangi sepanjang hari..tapi jangan keterusan tidak mandi ya bisa kena jamura ntar hehehe

6. Buat kesalahan dihukum bareng

      Kamu pasti pernahkan buat kesalahan selama kemah berlangsung, kalau sudah begini siap-siap deh satu regu bakal dihukum apalagi kalau kamu pinru nya hahahaha bisa disikat sama pembinanya.

7. Barang-barang sering ilang

     Kalau yang satu ini saya kurang tau apa sebabnya, tapi selalu saja ada yang ilang, mulai dari kacu, baju, peralatan mandi dll.

8. Anggota cinlok

       Yang suka cilok eee salah cinlok alias cinta lokasi maksudnya hehehe pasti ada tu ya kan, sebagian regu memantangkan cinlok sesama anggota regunya, tapi ada saja yang melanggar aturan itu asal jangan sampai ketauan kakak pembinanya aja deh. Tapi gak jarang juga dari sini berujung kepelaminan wahhhh ikut pramuka berhadiah jodoh ya..

9. Renungan suci

      Yang suka agenda ini mana suaranya heheheh....yang gokil itu pas lagi mewek-meweknya sedih eee teman sebelah lagi ngerekamin pakai kamera ponsel.

10. Rebutan berbaris jika uda dibilang "yang telat baris bakal dihukum"

    Ini yang paling menyebalkan, pas lagi enak-enaknya tidur ditenda dengar peluit panjang langsung buru-buru pakai baju,  nahhh disini terkadang gokilnya bajunya ketukar dengan punya kawan setenda, apalagi kalau pas dikamar mandi sambil gosok gigi dengar peluit panjang yaa udah deh ikut baris dengan sikat gigi dan busanya hehehe.

     Nahhh sekian dulu ya artikel dari sya, jiak Teman-teman punya cerita menarik tentang pramuka bisa dibagikan kesaya...

Trimakasih dan salam pramuka
Wassalam

SEBUAH EPISODE KEHIDUPAN

Malam hampir larut, jalanan sudah sepi semenjak setengah jam yang lalu. Pintu-pintu ruko yang berjejer di sepanjang jalan sudah mulai dit...